Rabu, 19 Agustus 2009

17-an di KBIH Hidayatullah

Hari ini sekolahan Mas Naufal, KB Islam Hidayatullah mengadaan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 64. Dan khusus untuk merayakannya, anak-anak diajibkan memakai pakaian bernuansa merah putih. Nah berhubung Mas Naufal gak punya hem warna merah, kalo celana putih sih ada, terpaksa bunda hunting hem buat mas Naufal di Java Mall. Dengan waktu yang teramat singkat, kurang lebih satu jam termasuk nyari pakir, akhirnya dapet juga hem warna merah dengan ukuran 6 (wah...ternyata anak bunda dah besar..). Bunda jadi tersadar ternyata selama ini mas Naufal gak punya baju warna merah, mungkin karena Kulit Mas Naufal yang rada gelap (padahal kulit ayah n bunda kan gak gelap sayang..) jadi jarang beli baju yang warna merah, abis takut dikirain kayak orang kerokan, merah hitam hee..he...he..
Balik ke peringatan 17-an. Pas hari H, Mas Naufal semangat banget berangkat sekolah dengan kostum merah putihnya, pagi-pagi banget dia udah minta mandi n begitu siap langsung minta difoto, wah...anak bunda narsis juga ya he..he...he.. Sampai di sekolahan, ternyata temen-temen udah banyak yang datang, secara kelas yang biasa masuk hari Senin, Rabu, Jumat juga digabung dengan kelas Mas Naufal, belum lagi kakak-kakak yang udah sekolah di TK, wah...pokoke heboh deh..
Untuk anak-anak KB, acara dimulai dengan nyanyi lagu 17 Agustus plus bagi-bagi bendera merah putih kecil dari plastik, Mas Naufal paling jago nyanyi lagu ini, soalnya kalo di rumah paling demen nyanyi lagi ini keras-keras, tapi nyanyinya gini nih.. “TUJUH BELAS ASGUSTUS TAHUN 45..” bukan Asgustus sayang, tapi agustus... Walaupun udah di benerin berkali-kali, tetep aja dianya cuek nyanyi menyebut kata Agustus dengan Asgustus... yo wislah... gak papa lama-lama juga bisa sendiri, yang penting sekarang Mas Naufal sudah mau nyanyi.
Abis nyanyi –nyanyi, bu Guru ngajakin karnaval kecil-kecilan, dibilang kecil-kecilan soalnya karnavalnya cuman diiringi beberapa drum n jaraknya pun gak lebih dari 50 meter, alias cuman sampai tepi jalan raya. Mungkin bu Guru masih khawatir ngajak krucil-krucil ini ke jalan raya, tahu sendiri kan anak umur antara 3-4 tahun kalo jalan belom liat kiri kanan n masih suka becanda kalo lagi jalan bareng, gitu juga Mas Naufal. Begitu dikasih aba-aba buat jalan, langsung aja Mas Naufal melesat paling depan (coba kalo loma lari pasti dah juara satu, nak). Seneng juga ngelihat Mas Naufal yang keiknya dah mulai percaya diri dan berani. Dia juga begitu antusias saat bu Guru minta anak-anak mencoba memukul drum yang di bawa bu Guru, langsung deh stik drumnya di pukulkan keras-keras, walopun harus bergantian Keiknya Mas Naufal seneng banget.
Abis acara karnaval, dilanjutin acara lomba. Untuk KB, lombanya memindahkan bendera dari satu sisi ruangan dan masukkin ke botol yang ada sisi ruang lainnya. n surprise banget, diantara sekian banyaj anak ternyata Mas Naufal juara satu loh... Hebat kan anak bunda, padahal waktu lomba di kampung dianya malah belom ngeh loh, bukannya cepetan mindahin bendera, eh... malahan ikutan nyorakin lawannya buat menang, “ayo... mbak damai cepetan larinya, biar juara” gitu katanya weleh..weleh... . Balik ke 17-an di sekolah, setelah lomba acara ditutup dengan pembagian hadiah, dan sebagai hadiah menang lomba, Mas Naufal dapat tempat makan lucu. Alhamdulillah... bisa buat gonta-ganti tempat bekal kalo sekolah, secara setiap sekolah kan harus selalu bawa bekal. Foto liputan 17-annya bisa dilihat di bawah lho...

Label:

Selasa, 13 Maret 2007

Lahir Dengan Penyakit Jatung Bawaan (PJB)

Melahirkan dan memiliki seorang anak yang sehat pastilah menjadi dambaan semua wanita, tapi seringkali kenyataan tidak seindah harapan yang pernah kita rajut. Muhamad Naufal Adinata, demikian nama yang kami berikan untuk buah hati kami tercinta yang terpaksa lahir dengan kelainan jantung yang cukup kompleks. Sebuah cobaan yang teramat sangat berat mengingat perjalanan hidup selama ini berlangsung mulus. Yah.. Naufal, demikian biasa kami panggil, harus menderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB) dengan kondisi jantung di kanan (dextrocardia) , pembuluh darah yang tertukar atau istilah medis Transposisi Great Arthery (TGA) dan sederet kelainan lain yang membuat jantungnya tidak bisa berfungsi normal meskipun sudah menjalani operasi.
Proses kelahiran Naufal bisa dibilang cukup lancar, karena hanya memakan aktu sekitar satu jam dari kedatangan saya di rumah sakit sampai melahirkan. Subhanallah... Allah Maha Besar, Naufal lahir dengan tubuh yang bersih, mata yang membuka seperti ingin melihat dunianya yang baru dan tangis yang cukup kencang. Sayang saya tidak bisa segera menimangnya karena ternyata mengalami pendarahan yang lumayan hebat dan harus diobservasi semalam penuh. Ketika saudah dipindah ke kamar perawatan, kedua orang tua yang kebetulan ikut menemani di rumah sakit dipanggil oleh Dokter Anak dan ketika kembali ke ruang perawatan saya bisa melihat perubahan mimik wajah mereka yang terlihat sangat sedih, ketika saya tanya mereka Cuma diam dan bilang “tidak apa-apa”. Pagi harinya saat saya bermaksud menuju ruang bayi untuk menyusui, tiba-tiba ada perawat yang berteriak marah “Nah, ini ibu yang anaknya kena sakit jantung, kemana aja sih ibu, dicari dokter anak kok enggak datang-datang”. Deg... serasa tersambar petir, dalam hati cuma bisa bertanya “Dicari dokter? Kapan ada pemberitahuan kalo saya dicari dokter?” trus “sakit jantung?”, Ya.. Allah apalagi ini, apa lagi yang coba disembunyikan dari saya. Akhirnya dari dokter anak, saya diberitahu kalo Naufal diduga menderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB), walaupun dokternya berusaha menenangkan tapi tetap saja dunia berasa runtuh.. Ya Allah.. cobaan apa ini? Semua rasa sakit karena melahirkan langsung hilang dan berganti rasa sakit karena harus menerima kenyataan ini. Mulai saat itu perjalanan panjang untuk mengusahakan kesembuhan dan menjalani serangkaian pemeriksaan yang menguras pikiran dan tenaga harus kami jalani. Dari hasil pemeriksaan dokter ternyata Naufal didiagnosa mengidap dextrocardia,TGA,VSD,ASD,PS, kelainan jantung yang sangat kompleks. Sebagai ibu yang melahirkan, saya seringkali didera perasaan bersalah karena telah menyebabkan Naufal terlahir seperti ini. Seorang doker tempat saya bertanya mengapa Naufal bisa negidap kelainan jatung ini Cuma bisa berucap bahwa semua berasal dari saya, ibunya. Duh.... Allah, semua ibu pasti ingin anaknya lahir sehat, selama hamil saya sudah berusaha menjaga kandungan saya sebaik-baiknya bahkan permintaan saya untuk cek darah dan pemeriksaan penunjang kehamilan malahan ditolak dokter kandungan. Yang lebih menyakitkan lagi ketika ada orang terdekat saya, orang yang saya harap bisa memberikan support ternyata malah menganggap naufal terlahir demikian sebagai buah atas dosa yang saya lakukan... Ya.. Allah... bukankah semua anak terlahir suci dan bukankah tidak ada dosa yang diturunkan.. Kalau saja orang terdekat saya punya pikiran seperti itu, apalagi dengan orang lain?
Akhirnya Februari 2007, tepat di usia 1 tahun dan setelah mundur 3 kali dari jadwal operasi sebelumnya, naufal naik meja operasi untuk menjalani operasi BCPS, sedih banget ngelihat anak sekecil itu harus menjalani operasi yang tidak mudah. Miris rasanya melihat dia dari balik kaca ruang icu, selang terpasang di mana-mana mulut, hidung, paha, perut dilubangi untuk memasukkan selang, selang infus menggantung di tangan. Naufal terus menangis menahan sakit setelah obat penenang yang diberikan pada saat operasi mulai habis, gak tega rasanya..."Ya... Allah... cobaan apa yang kau timpakan pada anak kami, kalau boleh ingin rasanya menggantikannya menanggung rasa sakit itu"Setelah 10 hari berada di rumah sakit, naufal diijinkan pulang. Konsekuensi dari operasi BCPS, naufal harus minum aspilet seumur hidupnya untuk mengencerkan darah dan jika dia sudah besar tidak boleh mengikuti kegiatan yang banyak membutuhkan kekuatan fisik.
Apapun yang terjadi pada Naufal harus saya terima dengan ikhlas, walaupun awalnya terasa sangat berat, saya tetap bersyukur pada-Nya tidak semua orang diberi kepercayaan seperti ini. Allah mempercayakan Naufal berarti Allah percaya bahwa kami bisa mendidik, menjaga dan merawat Naufal. Walaupun seringkali dilanda rasa cemas atas kesehatan Naufal, tapi saya yakin umur ada di tangan Maha Pemberi Hidup, saya coba pasrahkan semua kepada-Nya sambil terus mengusahakan agar Naufal tetep dalam kondisi terbaiknya. Dan yang pasti ada hikmah dibalik semua cobaan yang ditimpakan pada naufal, saya, ayahnya dan seluruh keluarga besar kami. Saya percaya smua akan indah pada saatnya, mungkin saja saat-saat itu belum datang, tapi pasti nanti, besok, lusa atau kapan semua cobaan ini akan berakhir indah.
Yang pasti tidak ada maksud lain dari postingan ini selain untuk berbagi pengalaman, karena saya yakin banyak orangtua yang mempunyai pengalaman seperti saya, semoga kita bisa saling menguatkan dan saling berbagi informasi untuk buah hati tersayang dan semoga blog ini bisa memberi manfaat bagi siapa saja yang membaca blog ini

Label:

Minggu, 12 Februari 2006

Namaku, M Naufal Adinta

Namaku M. Naufal Adinata
Buah Hati dari Ibu Ikha dan Ayah Mumu
Lahir spontan di Banjarmasin, 11 Februari 2006. Pukul 17.42 wita
di Rumah Sakit Suaka Insan
Berat Lahirku : 2,55 kg, panjang badan;49 cm, lingkar kepala:34 cm
Dokter yang menangani persalinanku : dr Sutarinda SPOG
Dokter anak yang memeriksaku : dr Gladys Gunawa, Spa

Label: